Kisah Fitri, Siswi SMP di Sungai Tabuk, Jalani Hidup Sebatang Kara di Tengah Ramadhan

Martapura, borneoinfonews.com – Di sebuah rumah kecil yang berdiri ringkih di RT 03 Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalsel, seorang gadis kecil bernama Fitri menjalani hari-harinya dalam sunyi. Usianya baru 14 tahun, namun beban hidup yang dipikulnya jauh melampaui angka itu. Ia bukan hanya seorang siswi kelas 7 di SMPN 1 Sungai Tabuk, tetapi juga seorang anak yang terpaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Rumah sederhana itu lebih sepi, gelap, dan dingin. Dinding-dinding kalsiboard yang rapuh menjadi saksi bisu betapa kesendirian telah menjadi teman akrab Fitri. Di sanalah ia melewati malam-malam panjang tanpa kehangatan seorang ibu dan perlindungan seorang ayah. Sejak sang datu (buyut) meninggal dua tahun lalu, Fitri tak lagi punya siapa-siapa. Kedua orang tuanya entah di mana, menghilang tanpa jejak. Sudah bertahun-tahun berlalu, namun tak ada kabar, tak ada pelukan, tak ada kata-kata penghiburan.

Setiap pagi, meski hatinya remuk, Fitri tetap melangkah menuju sekolah. Ia berjalan kaki sendirian, menyusuri jalanan desa dengan perut yang sering kosong. Seragam sekolahnya tampak lusuh, namun matanya menyimpan tekad untuk terus belajar. Untuk bertahan hidup, Fitri mengandalkan tetangganya dan upah kecil dari pekerjaan sederhana — seperti membeli sambal untuk tetangga — yang kadang hanya memberinya Rp 7 ribu. Jumlah yang nyaris tak cukup untuk membeli sebungkus nasi.

Ramadhan dalam Sepi

Ketika Ramadhan tiba, luka batin Fitri semakin terasa. Bukan hanya karena lapar yang menggigit, tetapi karena kesendirian yang merayap di setiap waktu berbuka dan sahur. Jika anak-anak lain duduk bersama keluarga di meja makan, Fitri hanya memandangi piring kosong. Tak ada aroma masakan ibu, tak ada doa bersama ayah.

“Saya sendiri saja kalau makan, tapi kadang saya minta makanan ke nenek (tetangga),” ucap Fitri lirih, dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Di malam-malam Ramadhan, rumah Fitri tenggelam dalam kegelapan. Hanya ada cahaya redup dari sambungan listrik tetangga, sekadar agar ia tak merasa terlalu sendiri. Udara malam yang dingin merayap masuk melalui celah-celah dinding rumahnya yang mulai lapuk. Fitri duduk diam, memeluk lutut, mencoba mengusir rasa takut dan rindu yang bertumpuk di dadanya.

Fitri di Mata Tetangga

Midah, seorang tetangga Fitri, tak mampu menahan keharuannya saat bercerita tentang gadis kecil itu. Meski hidup dalam keterbatasan, Fitri tak pernah mengeluh. Ia tetap menjadi anak yang baik, sopan, dan patuh.

“Fitri anak yang baik dan patuh. Dia nurut kalau dikasih nasihat. Tapi kasihan, dia sendirian di rumah itu,” kata Midah, suaranya bergetar.

Midah berusaha membantu sebisa mungkin, ia sering mengajak Fitri makan bersama. “Kalau sahur atau buka puasa, biasanya dia datang ke rumah saya. Saya nggak tega lihat dia makan sendiri. Alhamdulillah, dia anak yang sabar,” tambahnya.

Rumah Reyot, Mimpi yang Samar

Pantauan awak media menunjukkan betapa memprihatinkannya kondisi rumah Fitri. Dinding rumah dari kalsiboard mulai retak-retak, langit-langitnya dipenuhi sarang laba-laba, dan teras rumah berlubang. Lantai kayu tua berdecit setiap kali diinjak, seolah-olah ikut merasakan beban yang dipikul oleh sang penghuni. Saat malam, hanya ada cahaya temaram dari kabel kecil yang tersambung ke rumah tetangga.

Ketika ditanya tentang masa depannya, Fitri menunduk. Ada keraguan, ada ketakutan. “Ke depan saya tidak tahu mau apa, tapi kalau ada yang membantu, alhamdulillah,” katanya pelan, seolah tak ingin berharap terlalu tinggi.

Kisah Fitri adalah potret nyata dari perjuangan seorang anak yang terabaikan. Di tengah kemeriahan Ramadhan, ia menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian. Namun di balik luka dan keheningan itu, Fitri tetap berdiri, bertahan dengan kesabaran, berharap akan ada tangan-tangan baik yang membantunya melangkah ke masa depan yang lebih terang. (bin/rizal)

Sumber: kbk.news

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *