BANJAR, borneoinfonews.com – Kondisi jalan desa di RT 3, Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, kian memprihatinkan. Badan jalan yang berada di bantaran aliran Sungai Riam Kanan terus tergerus longsor hingga mendekati permukiman warga. Kerusakan yang disebut telah berlangsung puluhan tahun itu kini semakin mengancam keselamatan masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari melintas.
Pambakal Awang Bangkal Timur, Saifullah, mengatakan longsor di lokasi tersebut sudah berulang kali terjadi, khususnya saat musim hujan. Bahkan dalam satu musim hujan terakhir, longsor tercatat terjadi hingga tiga kali dan kini sudah mencapai bahu jalan.
“Di sini jalan penghubung antar RT, dari RT 1 sampai RT 4. Longsor ini sudah beberapa kali terjadi, dan di musim hujan kemarin sampai tiga kali. Sekarang longsor sudah sampai ke bahu jalan. Kalau terjadi sekali lagi, bisa dipastikan jalan ini putus,” ujarnya.
Menurutnya, gerusan tebing dipicu derasnya arus Sungai Riam Kanan yang langsung menghantam sisi tebing jalan desa tersebut.
“Karena posisi jalan ini tepat di bantaran sungai, setiap debit air naik, tebing terus tergerus. Lama-lama mendekat ke badan jalan,” katanya.

Puluhan Meter Tergerus, Rumah Warga Pernah Jatuh
Saifullah mengungkapkan, pengikisan tebing sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, posisi tebing yang dulunya jauh dari jalan kini terus mendekat akibat gerusan sungai.
“Dulu tebing ini posisinya hampir di tengah sungai sana, kurang lebih sekitar 30 meter dari jalan sekarang. Tapi karena tergerus terus, longsor jadi langganan tiap tahun sampai hari ini sudah di bahu jalan,” jelasnya.
Ia juga menyebut dampak longsor pernah menyebabkan bangunan warga terdampak langsung.
“Selama saya menjabat, pernah ada satu rumah jatuh. Sekitar tahun 2016 juga ada dapur warga yang longsor. Waktu itu kami bersama masyarakat membantu. Beberapa rumah juga sudah pindah karena takut, karena longsor makin mendekati permukiman,” ungkapnya.
Sering Ditinjau, Belum Terealisasi

Pemerintah desa, kata Saifullah, hampir setiap tahun mengusulkan pembangunan siring jalan melalui Musrenbang desa dan menjadikannya skala prioritas. Sejumlah dinas terkait juga disebut telah beberapa kali turun meninjau lokasi.
“Karena kami masukkan skala prioritas, biasanya ada dari dinas datang meninjau. Bahkan dipasang garis pembatas karena dianggap sudah mengkhawatirkan. Artinya sudah pernah diukur dan dilihat langsung,” ujarnya.
Namun hingga kini, realisasi penanganan belum juga terlaksana.
“Harapan kami, karena ini sudah sangat urgent, mudah-mudahan dinas terkait bisa segera merealisasikan penanganannya,” katanya.
Panjang Longsor Capai 100 Meter
Berdasarkan data di lapangan, tebing yang mengalami longsor diperkirakan memiliki panjang sekitar 100 meter, dengan titik terparah sekitar 20 meter yang sudah berada tepat di tepi badan jalan desa.
Jika tidak segera ditangani, warga khawatir longsor susulan akibat gerusan Sungai Riam Kanan akan memutus total akses jalan yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat.
Suara Warga: Khawatir dan Berharap Segera Diperbaiki
Kekhawatiran juga disampaikan warga. Isur, berharap pemerintah segera melakukan pembenahan.
“Jadi harapan saya mudah-mudahan pihak pemerintah bisa membenahi, supaya desa kita ini bagus, kelihatannya rapi, nyaman dipandang. Mudah-mudahan terlaksana,” ujarnya.

Sementara Mahli, menilai kondisinya sudah mendesak karena longsor makin mendekati rumah warga.
“Harapan saya supaya cepat ditangani, karena sudah mendekati pemukiman. Kalau lambat sangat membahayakan. Apalagi di sini banyak anak-anak sekolah yang lewat setiap hari,” katanya.
Butuh Penanganan Segera
Pemerintah desa dan masyarakat berharap ada langkah konkret dari pemerintah kabupaten maupun provinsi melalui dinas terkait, baik berupa pembangunan siring, penguatan tebing, maupun penanganan teknis lainnya.
Pasalnya, selain mengancam akses vital warga, longsor akibat gerusan Sungai Riam Kanan juga berpotensi menimbulkan korban jiwa apabila tidak segera ditangani.
Hingga berita ini dipublikasikan, media masih berusaha mengonfirmasi dinas terkait terkait langkah penanganan yang akan dilakukan.(bin/rasyad)
