Ironis! Warga Hidup di Tengah Banjir Hampir Setengah Tahun, Padahal Hanya Sejengkal dari Pusat Pemerintahan

Martapura, Borneoinfonews.com – Sungguh ironis. Sejak November 2024 hingga April 2025, genangan air tak kunjung surut dari kawasan Jalan Menteri 4, Gang Warga 2 Ujung, RT 027, Kelurahan Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Artinya, sudah hampir enam bulan lamanya puluhan kepala keluarga hidup dalam kepungan banjir—tepat di jantung kota, hanya selemparan batu dari pusat pemerintahan.

Kurang lebih sekitar 50 kepala keluarga masih terdampak, dengan kondisi rumah tergenang dari lutut hingga sedada orang dewasa. Perahu kini menjadi moda transportasi utama, bahkan untuk anak-anak yang hendak bersekolah. Sebagian warga memilih mengungsi karena rumah mereka tak lagi layak huni.

“Kalau mau keluar harus naik perahu. Anak-anak sekolah juga pakai perahu. Sudah lama begini, tapi belum ada bantuan nyata dari pemerintah,” keluh Imi, salah satu warga terdampak.

Dengan nada getir, Imi (kaos hijau) membawa awak media menyusuri gang yang berubah menjadi sungai, memperlihatkan bagaimana ia dan keluarganya bertahan hidup di rumah yang telah terendam sejak enam bulan lalu. Foto: Rasyad

Ketinggian air bervariasi tergantung kondisi rumah, namun di jalur masuk gang, genangan mencapai lebih dari satu meter, bahkan diperkirakan bisa menyentuh dua meter di titik terendah. Kondisi ini bukan hanya menyulitkan aktivitas, tapi juga memunculkan ancaman baru, seperti ular, pacet, dan binatang liar lain yang kerap muncul di sekitar rumah warga.

Garis bekas air yang menempel di dinding rumah warga menjadi bukti nyata bahwa banjir tak hanya merendam, tapi juga menetap terlalu lama. Foto: Rasyad

Yang membuat situasi ini makin ironis, lokasi pemukiman terdampak hanya berjarak beberapa menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Banjar. Namun hingga berita ini diturunkan, belum tampak langkah konkret dari pihak berwenang.

“Proposal bantuan sudah kami ajukan. Kami juga sudah melapor berkali-kali. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkap Imi dengan nada kecewa.

Ia tidak meminta hal muluk. Harapan terbesar warga saat ini adalah adanya perbaikan akses jalan dan drainase, agar mereka bisa beraktivitas dengan aman dan layak.

“Ini bukan sungai, ini jalan kampung kami. Tapi sekarang terlihat seperti dermaga karena air tak kunjung surut,” tambahnya.

Perahu-perahu kecil tampak berjajar rapi, bersandar di genangan air yang kini menggantikan fungsi jalan di kawasan tersebut. Foto: Rasyad

Warga berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap penderitaan yang terjadi begitu dekat dengan jantung pemerintahan. Banjir tahunan yang terus berulang ini bukan hanya menyulitkan hidup, tetapi juga menjadi cermin rapuhnya sistem tanggap darurat dan penanganan infrastruktur perkotaan. Sejak berita ini ditayangkan media ini masih mencoba mengkonfirmasi dinas terkait. (bin/rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *