Sosialisasi ke sekolah, pesantren, hingga kampus dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penularan dan pencegahan HIV.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Kalimantan Selatan dinilai harus dimulai sejak dini melalui edukasi yang masif kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan kelompok rentan. Hal tersebut disampaikan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Kalimantan Selatan yang menilai sosialisasi berkelanjutan menjadi kunci penting dalam menekan angka penularan.
Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) Kalimantan Selatan menekankan pentingnya upaya pencegahan dini terhadap penyebaran HIV/AIDS melalui edukasi yang lebih luas dan berkelanjutan kepada masyarakat.
Dewan Nasional OPSI sekaligus mantan Ketua OPSI Kalimantan Selatan, Siti Jubaidah, mengatakan bahwa edukasi mengenai bahaya HIV/AIDS perlu terus diperkuat agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar mengenai penularan serta upaya pencegahannya.
Menurutnya, langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui kegiatan sosialisasi yang menyasar berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.
“Pencegahan harus dilakukan sejak dini, misalnya melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah, pondok pesantren, dan kampus-kampus tentang bahaya penyakit HIV/AIDS, terutama bagi kelompok rentan,” kata Siti Jubaidah di Banjarbaru, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, penyebaran HIV/AIDS dapat dipicu oleh berbagai perilaku berisiko. Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang tepat mengenai cara penularan dan langkah-langkah pencegahannya.
Selain edukasi, Siti Jubaidah juga menilai bahwa upaya pencegahan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, sejumlah instansi memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan sosialisasi dan edukasi HIV/AIDS kepada masyarakat, di antaranya Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), serta Dinas Sosial baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Kolaborasi antarinstansi sangat penting agar informasi mengenai HIV/AIDS dapat tersampaikan secara luas dan tepat kepada masyarakat,” tambahnya.
Selain upaya pencegahan, OPSI Kalsel juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam penanganan orang dengan HIV (ODHIV). Dukungan emosional dan sosial dinilai sangat membantu ODHIV untuk menjalani pengobatan secara rutin serta tetap menjalani kehidupan yang produktif.
Pendampingan keluarga juga menjadi faktor penting dalam memastikan kepatuhan terhadap terapi antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi secara rutin guna menekan jumlah virus dalam tubuh.
Siti Jubaidah menegaskan bahwa masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang benar mengenai cara penularan HIV. Ia mengingatkan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti bersalaman, berpelukan, atau makan bersama.
Dengan edukasi yang tepat serta dukungan dari keluarga dan masyarakat, diharapkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV dapat berkurang sekaligus memperkuat upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Kalimantan Selatan. (bin/mck)
