Polres Banjarbaru mengungkap hasil pemeriksaan ahli yang menyatakan anak pelapor dalam kasus dugaan intimidasi di Banjarbaru mengalami gangguan stres pascatrauma.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Polres Banjarbaru mengungkap hasil pemeriksaan ahli terhadap anak pelapor dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak yang kini masih berproses.
Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan anak pelapor mengalami gangguan stres pascatrauma setelah kejadian yang dilaporkan.
Selain itu, pemeriksaan dokter kejiwaan dan psikolog juga menemukan adanya gangguan penyesuaian campuran cemas dan depresi pada anak tersebut.
Bahkan, berat badan anak dilaporkan mengalami penurunan pascakejadian.
Kasat Reskrim Polres Banjarbaru, AKP Ari Handoyo, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan ahli.
“Hasil pemeriksaan ahli menyatakan adanya gangguan stres pascatrauma, gangguan penyesuaian campuran cemas dan depresi. Informasinya juga ada penurunan berat badan pada anak tersebut,” jelasnya, Senin (18/5/2026).
Polisi Ungkap Dugaan Intimidasi di Jalan
AKP Ari menjelaskan laporan yang diterima berkaitan dengan dugaan intimidasi terhadap anak saat perjalanan pulang sekolah.
Menurut keterangan pelapor, anak tersebut sempat diikuti sebuah mobil dari sekolah hingga kawasan Gardu Induk Cempaka.
“Pelapor menyampaikan, anaknya sempat diikuti satu mobil dari sekolah hingga di kawasan Gardu Induk Cempaka,” ujarnya.
Di dalam mobil tersebut, kata Ari, terdapat dua orang dewasa dan satu anak.
Saat kejadian berlangsung, anak pelapor sedang dibonceng pengemudi ojek online dalam perjalanan pulang sekolah.
“Salah satu yang berada di mobil kemudian mendekati sepeda motor korban dan mengeluarkan kalimat yang diduga bersifat intimidatif sehingga membuat anak tersebut ketakutan,” bebernya.
Polisi Upayakan Mediasi
Selain melakukan penyelidikan, Polres Banjarbaru juga telah beberapa kali memfasilitasi mediasi kedua belah pihak.
Polisi menggandeng Dinas Perlindungan Anak Kota Banjarbaru serta tokoh masyarakat dalam proses mediasi tersebut.
Namun hingga kini kedua belah pihak belum menemukan titik temu.
“Kami sudah beberapa kali mencoba memfasilitasi mediasi, termasuk bersama Dinas Perlindungan Anak Kota Banjarbaru. Namun sampai sekarang kedua belah pihak belum menemukan titik temu,” katanya.
Meski demikian, polisi memastikan penyelesaian secara kekeluargaan tetap menjadi prioritas.
“Kami terus mengupayakan mediasi karena semua pihak adalah warga Banjarbaru. Kami ingin keamanan dan ketertiban di Kota Banjarbaru tetap terjaga,” pungkasnya. (bin)
