Pokjar 3 SPPK Sespim Polri mengajak masyarakat memperkuat pencegahan karhutla melalui edukasi, deteksi dini, dan sinergi lintas sektor.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Peserta Didik Pokjar 3 Sekolah Pengembangan Profesi Kepolisian (SPPK) Sespim Polri menggelar edukasi pencegahan dan antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis masyarakat di wilayah hukum Polres Banjarbaru.
Kegiatan dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan berbagai unsur. Di antaranya TNI, BPBD Kota Banjarbaru, tenaga kesehatan, personel Satgas Karhutla, Posko Karhutla, relawan, dan masyarakat di kawasan rawan kebakaran.
Ketua Senat SPPK Roberto Asfrianza mengatakan edukasi tersebut bertujuan mendorong masyarakat melakukan pencegahan dan penanganan dini karhutla.
Materi yang disampaikan mencakup dampak karhutla terhadap kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Peserta juga diajak memperkuat peran kelompok masyarakat dan relawan dalam mendeteksi potensi kebakaran.
Dalam kegiatan tersebut turut dipaparkan inovasi penanganan lahan gambut yang dikembangkan jajaran Polda Kalsel di bawah kepemimpinan Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H.
Inovasi tersebut berupa penggunaan cairan surfaktan melalui metode injeksi pada tanah gambut. Pemanfaatan drone termal juga diperkenalkan untuk membantu mendeteksi titik panas dan kondisi suhu tanah.
Peserta Didik SPPK Dr. Ade Mulya, S.H. menjelaskan bahwa karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran membutuhkan metode khusus.
“Gambut tidak bisa dipadamkan hanya dengan air biasa karena api bisa terus membara di bawah permukaan,” jelas Ade.
Ia mengatakan teknologi drone termal dapat membantu petugas menentukan lokasi titik panas secara lebih tepat.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Selain penanganan, edukasi juga menitikberatkan pada pencegahan. Masyarakat dan kelompok usaha diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran. Langkah tersebut penting agar petugas dapat melakukan penanganan sejak awal.
Perwakilan Kapolres Banjarbaru mengapresiasi pelaksanaan edukasi tersebut. Sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat dinilai penting dalam menghadapi ancaman karhutla.
Adapun tujuh Peserta Didik Pokjar 3 SPPK Sespim Polri yang hadir yakni Roberto Asfrianza selaku Ketua Senat SPPK, Didit Murwanto, Dr. Ade Mulya, S.H., Andy Kusuma Jaya, Moh. Asrori Khadafi, S.H., Adi Sumardi, dan dr. Amiruddin.
Kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah karhutla sekaligus memperkuat kemitraan dalam menjaga lingkungan.
(bin)
