Pokjar 3 SPPK Sespim Polri mengenalkan penggunaan surfaktan dan drone termal dalam penanganan lahan gambut serta mendorong kesiapsiagaan masyarakat.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Penanganan kebakaran pada lahan gambut membutuhkan pendekatan berbeda karena api dapat bertahan di bawah permukaan. Kondisi itu menjadi salah satu pembahasan dalam edukasi karhutla yang digelar Peserta Didik Pokjar 3 SPPK Sespim Polri di Banjarbaru.
Kegiatan berlangsung dalam Focus Group Discussion (FGD) pencegahan dan antisipasi karhutla berbasis masyarakat di wilayah hukum Polres Banjarbaru.
Dalam forum tersebut, Peserta Didik SPPK memaparkan inovasi penanganan lahan gambut yang dikembangkan jajaran Polda Kalsel di bawah kepemimpinan Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah penggunaan cairan surfaktan melalui injeksi ke tanah gambut. Metode tersebut dipaparkan sebagai salah satu pendekatan dalam menangani titik panas pada lahan gambut.
Peserta Didik SPPK Dr. Ade Mulya, S.H. mengatakan karakteristik gambut membuat proses pemadaman membutuhkan perhatian khusus.
“Gambut tidak bisa disiram air biasa. Api bisa terus membara di bawah permukaan,” jelas Ade.
Menurutnya, penanganan tersebut dapat didukung dengan teknologi drone termal. Teknologi ini membantu petugas mendeteksi titik panas dan melihat kondisi suhu tanah.
“Drone termal sangat berfungsi untuk melihat langsung titik panas dan suhu tanah, sehingga sasaran penyuntikan cairan dalam pemadaman menjadi lebih akurat,” katanya.
Teknologi dan Kesiapsiagaan Warga
Selain membahas teknologi, Pokjar 3 SPPK juga mendorong penguatan kapasitas masyarakat.
Edukasi diarahkan kepada kelompok masyarakat dan relawan agar mampu mengenali potensi kebakaran serta melakukan penanganan awal sesuai kemampuan dan kondisi lapangan.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Kegiatan tersebut dihadiri Patun KBP Ardi Sutriono, perwakilan BPBD Kota Banjarbaru, tenaga kesehatan, personel TNI-Polri Satgas Karhutla, Posko Karhutla, relawan, serta warga di wilayah rawan kebakaran.
Perwakilan Kapolres Banjarbaru mengapresiasi kegiatan tersebut. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting karena penanganan karhutla membutuhkan dukungan aparat, pemerintah, relawan, dan masyarakat.
Pokjar 3 SPPK yang mengikuti kegiatan terdiri dari Roberto Asfrianza, Didit Murwanto, Dr. Ade Mulya, S.H., Andy Kusuma Jaya, Moh. Asrori Khadafi, S.H., Adi Sumardi, dan dr. Amiruddin.
Dengan kombinasi edukasi masyarakat dan pemanfaatan teknologi, upaya pencegahan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat. Masyarakat juga diharapkan semakin aktif melaporkan potensi kebakaran sebelum api meluas.
(bin)
