Penonton mengaku tersentuh usai menyaksikan realita perjuangan masyarakat Papua mempertahankan tanah leluhur mereka.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Ratusan warga dan mahasiswa memadati Halaman UNISKA Banjarbaru dalam kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter investigatif “Pesta Babi”, Sabtu (16/5/2026) malam.
Film yang menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar itu sukses menarik perhatian masyarakat Kalimantan Selatan.
Koordinator Wilayah 1 BEM se-Kalimantan Selatan sekaligus perwakilan penyelenggara, Hendra, menyebut antusiasme masyarakat sangat tinggi. Diperkirakan sekitar 300 hingga 400 orang hadir menyaksikan pemutaran film tersebut.
Menurut Hendra, persoalan yang terjadi di Papua bisa saja terjadi di daerah lain jika masyarakat tidak ikut bersuara menjaga ruang hidup dan lingkungan.
“Pesan kami, mungkin yang terjadi sekarang di Papua nantinya bisa saja terjadi di Kalimantan Selatan maupun di kota-kota lain. Maka dari itu kita harus terus menyuarakan dan terus menggaungkan bahwa Papua bukan tanah kosong,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan, Raden Rafiq Septian FW, menilai film tersebut menjadi gambaran nyata dampak kerusakan lingkungan dan konflik ruang hidup masyarakat adat akibat kepentingan investasi.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi serupa sebenarnya telah lama dirasakan Kalimantan Selatan melalui bencana ekologis yang terus berulang setiap tahun.
“Kalimantan Selatan sudah mengalami hal yang sama. Sudah lama Kalimantan Selatan mengalami kerusakan lingkungan sehingga bencana ekologis selalu terjadi setiap tahunnya,” katanya.
Tak hanya pemantik diskusi, para penonton juga mengaku tersentuh usai menyaksikan film dokumenter tersebut.
Salah satunya Uswatun Hasanah, mahasiswi Politeknik Negeri Banjarmasin, yang mengaku baru menyadari bahwa persoalan yang terjadi di Papua merupakan kenyataan yang terjadi di Indonesia.
“Jujur gak expect banget, ternyata itu kejadian nyata,” ucapnya.
Sementara Bung Paulus, warga asli Papua sekaligus pemantik diskusi dari Forum Mahasiswa Hukum ULM, mengapresiasi tingginya solidaritas masyarakat Banjarbaru terhadap kondisi Papua.
Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan kehidupan masyarakat adat dan berpihak kepada rakyat.

Kegiatan nobar dan diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama tentang persoalan lingkungan, masyarakat adat, serta pentingnya kepedulian generasi muda terhadap isu sosial dan kemanusiaan. (bin/rasyad)
