Ratusan Warga dan Mahasiswa Padati Nobar “Pesta Babi” di ULM Banjarbaru

Ratusan warga menghadiri nobar film Pesta Babi di Banjarbaru

Diskusi publik menyoroti konflik agraria, ketimpangan ekonomi, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat

BANJARBARU, borneoinfonews.com – Ratusan warga dari berbagai kalangan datang ke kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Kopi Teknik Banjarbaru, Minggu (17/5/2026) malam.

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar kegiatan tersebut bersama aktivis lingkungan, akademisi, pelajar, dan warga yang terdampak konflik agraria.

Hujan turun usai acara berlangsung, Sejumlah peserta tetap bertahan dan mengikuti pemutaran film hingga diskusi selesai.

Antusiasme Peserta Meningkat

Suasana nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Kopi Teknik Banjarbaru yang dihadiri ratusan peserta.

Ketua pelaksana kegiatan, Wira Surya Wibawa atau Bung Wira, menjelaskan bahwa jumlah peserta terus bertambah setiap kali pemutaran film berlangsung.

“Hari ini yang hadir bukan hanya mahasiswa Fakultas Teknik, tetapi juga masyarakat umum, warga Sidomulyo yang berjuang dalam sengketa lahan, dosen, pemerhati lingkungan, hingga lintas komunitas,” ujarnya.

Ia menegaskan film tersebut membuka ruang diskusi kritis di tengah masyarakat.

“Film ini bukan aib. Film ini membuka cara pandang bahwa ketidakadilan itu nyata dan masyarakat bisa membangun solidaritas,” katanya.

Bung Wira memperkirakan sekitar 500 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Warga Sidomulyo Ceritakan Konflik Lahan

Dalam sesi diskusi, Juki dari warga Sidomulyo, Guntung Payung, Banjarbaru, menjelaskan kemiripan konflik dalam film dengan kondisi di wilayahnya.

Juki, warga Sidomulyo Guntung Payung, Banjarbaru, menyampaikan penjelasan terkait konflik lahan dalam sesi diskusi usai nonton bareng film Pesta Babi di Banjarbaru.

“Film tadi menceritakan perampasan tanah adat. Situasi itu mirip dengan yang kami alami di Sidomulyo,” ujarnya.

Ia menyebut sekitar 23 kepala keluarga menghadapi sengketa lahan seluas 3,6 hektare.

Warga juga menemukan perbedaan arah lokasi antara surat tanah milik pihak TNI dan lahan yang mereka klaim.

“Surat tanah TNI mengarah ke timur, tetapi lahan yang kami persoalkan berada di utara,” katanya.

Juki menyampaikan bahwa warga masih melanjutkan proses hukum hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

“Kami menuntut keadilan dan menolak penggusuran,” tegasnya.

Ia juga menyebut warga pernah menerima tekanan pada 2023 saat aparat datang membawa surat pengosongan rumah.

Diskusi Soroti Ketimpangan dan Pembangunan

Wira Surya Wibawa atau Bung Wira Ketua pelaksana kegiatan, memberikan keterangan kepada peserta dalam diskusi publik usai nonton bareng film Pesta Babi di Banjarbaru yang membahas isu konflik agraria dan solidaritas masyarakat

Peserta diskusi menyoroti ketimpangan ekonomi dan penguasaan lahan yang mereka nilai belum merata.

Peserta juga mempertanyakan arah pembangunan pemerintah yang belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Sebagai contoh, peserta menyinggung proyek stadion internasional di Kalimantan Selatan yang bernilai sekitar Rp1 triliun.

Menurut mereka, anggaran tersebut lebih tepat untuk jalan, pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan.

Peserta juga menyoroti lemahnya pengawasan perizinan usaha yang berpotensi merusak lingkungan.

Mahasiswa Papua Angkat Isu Nasional

Perwakilan mahasiswa Papua di Kalimantan Selatan, Anton, menyebut film Pesta Babi menggambarkan persoalan sosial di berbagai daerah Indonesia.

“Banyak teman di Kalimantan Selatan juga mengalami persoalan serupa terkait kebijakan yang tidak berpihak,” ujarnya.

Ia mendorong lebih banyak ruang diskusi agar masyarakat memahami persoalan sosial yang terjadi.

Anton, perwakilan mahasiswa Papua di Kalimantan Selatan, menyampaikan pandangan dalam diskusi publik usai nonton bareng film Pesta Babi di Banjarbaru yang membahas isu konflik sosial dan agraria.

“Kita perlu menyadarkan masyarakat bahwa banyak masalah belum selesai,” katanya.

Diskusi malam itu berakhir dengan ajakan memperkuat solidaritas sosial dan memperjuangkan keadilan ruang hidup masyarakat. (bin/rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *