Diskusi film dokumenter Pesta Babi di Banjarbaru menjadi ruang refleksi bersama terkait persoalan lingkungan hidup dan keadilan sosial di Kalimantan Selatan dan Papua.
BANJARBARU, borneoinfonews.com – Ratusan warga memadati kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di BAJUANG HATI (Balai Juang Hajjah Titien), Gang Purnama No.14B Simpang Empat, Banjarbaru, Jumat (22/5/2026).
Sejak siang, peserta mulai berdatangan ke lokasi kegiatan. Mereka terdiri dari aktivis, advokat, mahasiswa, pegiat sosial, awak media, hingga masyarakat umum.
Selain itu, warga Sidomulyo Banjarbaru dan masyarakat Bakambit Kotabaru juga hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka ikut menyampaikan keresahan terkait persoalan ruang hidup dan dampak lingkungan di daerah masing-masing.
Suasana nobar berlangsung ramai dan penuh antusias. Para peserta mengikuti pemutaran film hingga sesi diskusi secara aktif.
Diskusi Bahas Lingkungan dan Keadilan Sosial
Panitia menghadirkan sejumlah narasumber dalam diskusi tersebut. Mereka yakni Prof. Denny Indrayana, Ari Trismana, Berry Nahdian Forqan, Kisworo Dwi Cahyono, serta produser eksekutif film Pesta Babi.
Sementara itu, sutradara film Dandhy Laksono mengikuti jalannya diskusi secara virtual.
Dalam sesi dialog, peserta membahas berbagai persoalan sosial, lingkungan hidup, hingga konflik ruang yang muncul di sejumlah daerah.
Selain itu, beberapa peserta juga mendorong lahirnya film dokumenter serupa di Kalimantan Selatan. Mereka berharap film tersebut dapat mengangkat persoalan lingkungan dan dampak pertambangan di daerah.
Permintaan Nobar Film “Pesta Babi” Tembus 19 Ribu

Dalam diskusi itu, Ari Trismana mengungkapkan tingginya minat masyarakat terhadap film dokumenter Pesta Babi. Menurutnya, permintaan pemutaran film tersebut mencapai sekitar 19 ribu dari berbagai daerah di Indonesia.
“Permintaan nobar film ini luar biasa, tercatat sampai sekitar 19 ribu permintaan. Kami juga tidak menyangka antusias masyarakat sebesar ini,” ujarnya.
Ia menilai tingginya animo masyarakat menunjukkan kepedulian publik terhadap isu sosial, lingkungan hidup, dan kemanusiaan masih sangat besar.
Film Pesta Babi sendiri mengangkat persoalan sosial dan dampak lingkungan yang disebut sebagai bentuk kolonialisme modern di tanah Papua.
BAJUANG HATI Disiapkan Jadi Ruang Pendidikan Masyarakat
Prof. Denny Indrayana menyebut tingginya partisipasi masyarakat menjadi semangat baru untuk membangun ruang pendidikan publik di Kalimantan Selatan.
“Alhamdulillah peserta nobar sangat antusias. Diskusinya juga berjalan menarik dan substantif,” katanya.

Menurut Denny, persoalan yang muncul dalam film tidak hanya terjadi di Papua. Ia menilai persoalan serupa juga muncul di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan.
Karena itu, ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang perjuangan bersama dalam memperbaiki tata kelola sumber daya alam dan keadilan sosial.
Denny juga menegaskan BAJUANG HATI sejak awal hadir sebagai ruang civic education atau pendidikan masyarakat.
“Tempat ini kami siapkan untuk pendidikan kemasyarakatan dan ruang diskusi publik,” jelasnya.
Ia berharap BAJUANG HATI nantinya berkembang menjadi pusat gerakan masyarakat dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, dan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan. (bin/rasyad)
Berikut beberapa dokumentasi kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Banjarbaru, Jumat (22/5/2026), yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan dan menghadirkan diskusi seputar isu lingkungan, ruang hidup, serta keadilan sosial.












