BANJAR, borneoinfonews.com – Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kemarau, pemerintah mulai memperkuat langkah pencegahan dengan memastikan ketersediaan air di kawasan rawan kebakaran. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat mendorong sekat kanal, embung hingga sumur bor agar gambut tetap basah.
Jumhur mengatakan pengalaman menghadapi El Nino menjadi pelajaran agar upaya pencegahan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Salah satu perhatian utama adalah memastikan kawasan gambut tetap memiliki cukup air.
“Salah satu yang kita peroleh hari ini adalah bahwa kita harus memperbanyak upaya, misalnya bagaimana memastikan gambut itu selalu terairi,” ujar Jumhur saat kunjungan kerja ke kalimantan selatan, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memblokir kanal ketika masih tersedia air. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan kondisi basah di kawasan gambut.
“Ada caranya, yaitu dengan memblokir kanal-kanal ketika masih ada airnya,” katanya.
Selain sekat kanal, pemerintah juga mendorong pembangunan kolam kecil dan embung untuk menampung air sebelum kondisi semakin kering.
“Kemudian membuat kolam-kolam kecil atau embung-embung untuk menampung air ketika air masih ada,” ujar Jumhur.
Ia mengatakan ketersediaan air menjadi semakin penting ketika memasuki kondisi kemarau yang lebih panjang. Karena itu, persiapan harus dilakukan sebelum sumber air menghilang.
“Kalau air sudah tidak ada, memang menjadi agak merepotkan,” katanya.
Untuk wilayah yang kesulitan mendapatkan air permukaan, sumur bor dapat menjadi salah satu alternatif. Jumhur menyebut sumber air masih dapat ditemukan pada kedalaman tertentu dan dimanfaatkan untuk menjaga kawasan gambut tetap basah.
“Tetapi ada cara lain. Mudah-mudahan di beberapa tempat sudah terbukti dengan sumur bor. Pada kedalaman 40-50 meter ke bawah pasti ada air dan itu juga bisa dipakai untuk, kalau sudah panas sekali, mengairi gambut,” jelasnya.
Selain upaya menjaga ketersediaan air, Jumhur juga menyinggung kesiapan operasi modifikasi cuaca ketika terdapat kondisi yang memungkinkan.
“BNPB ini selalu menyiapkan diri untuk segera mengadakan operasi modifikasi cuaca. Itu yang harus diperbanyak,” ujarnya.
Jumhur menilai pencegahan harus dilakukan sejak dini karena pola kemarau dan El Nino dapat kembali terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
“Jadi setiap tahun kita belajar, setiap kejadian kita belajar,” katanya.
Ia berharap seluruh pihak tidak hanya mengandalkan upaya pemadaman ketika kebakaran telah meluas. Pencegahan melalui pengelolaan air, kesiapan personel dan sarana menjadi bagian penting untuk menekan risiko karhutla.
“Sejauh ini pemadaman juga sudah dilakukan. Kita harus bekerja lebih keras lagi, lebih banyak lagi yang dipadamkan,” pungkasnya.
(bin/rasyad)
