Benteng Oranje Nassau Jadi Kelas Konten Siswa

Siswa SMAN 1 Pengaron praktik membuat konten di Benteng Oranje Nassau

Hari kedua pelatihan membawa siswa SMAN 1 Pengaron belajar membuat konten langsung di lapangan dengan mengangkat potensi sejarah dan lingkungan sekitar.

PENGARON, borneoinfonews.com – Hari kedua pelatihan menjadi pengalaman yang berbeda bagi siswa SMAN 1 Pengaron. Kali ini, ruang belajar tidak lagi hanya berupa kelas, melainkan berpindah ke Benteng Oranje Nassau.

Sebanyak 25 siswa mendapat kesempatan mempraktikkan langsung materi yang sebelumnya mereka terima. Kamera dan ponsel menjadi alat belajar untuk menangkap objek, menyusun cerita, lalu mengubahnya menjadi sebuah konten.

Bagi sebagian siswa, pengalaman tersebut menjadi kali pertama mereka benar-benar membuat video dengan proses yang lebih terarah.

Abdul Khaliq, siswa kelas XI Merdeka 1, mengaku awalnya masih bingung ketika harus membuat video.

“Dalam dua hari terakhir ini, kami mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam pembuatan video dan cara marketing. Sebelumnya saya masih bingung, sekarang jadi lebih jelas,” ujarnya, Kamis (10/9/2026)

Praktik di lapangan juga tidak selalu mudah. Cuaca panas menjadi salah satu tantangan yang dirasakan Khaliq. Ditambah lagi, membuat video untuk pertama kalinya tentu membutuhkan banyak perbaikan.

Namun, ia merasa terbantu karena mendapat pendampingan dari para praktisi.

“Ini baru pertama kali saya membuat video, jadi mungkin masih banyak yang harus direvisi. Tapi untungnya ada kakak-kakak yang mendampingi,” katanya.

Kepala SMAN 1 Pengaron, Ahmad Haitomi, melihat praktik tersebut sebagai bagian penting dari proses belajar siswa.

“Alhamdulillah selama dua hari ini, terutama pada hari kedua, anak-anak kami dapat belajar bagaimana cara membuat konten yang baik, menarik, serta bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Roly Supriadi dari KOWAS melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa siswa sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar.

Menurutnya, siswa sudah memiliki kemampuan dasar dalam mengolah vokal, mengambil gambar dan menentukan sudut pengambilan gambar. Yang perlu diperkuat adalah arah serta tujuan dari konten yang dibuat.

Bagi Roly, lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber ide. Potensi sekolah, daerah hingga peninggalan budaya dapat dikemas menjadi konten yang bukan hanya menarik, tetapi juga memberi pengetahuan kepada orang lain.

Pesan itu menjadi penting karena pembuatan konten hari kedua bukan sekadar tugas pelatihan. Siswa sedang belajar melihat sesuatu yang dekat dengan mereka dengan cara yang berbeda.

Benteng Oranje Nassau tidak hanya menjadi tempat praktik mengambil gambar. Di sana, siswa belajar bahwa sebuah tempat dapat memiliki cerita, dan cerita tersebut dapat diolah menjadi pengetahuan yang dibagikan melalui media digital.

Abdul Khaliq, siswa kelas XI Merdeka 1 SMAN 1 Pengaron, menyampaikan pengalaman mengikuti pelatihan pembuatan konten digital.

Khaliq pun berharap pengalaman tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

“Keharapan ulun setelah ini, semoga bisa membuat sebuah video ataupun sebuah bisnis yang lebih bagus dan juga lebih berkualitas daripada sebelum-sebelumnya,” katanya.

Dari sebuah praktik sederhana, siswa akhirnya belajar satu hal penting: membuat konten bukan hanya soal menghasilkan video, tetapi bagaimana mengubah apa yang dilihat menjadi cerita yang memiliki nilai.

(bin/rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *