Karang Intan, borneoinfonews.com – Menyikapi berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat, Kepala SPPG Mandikapau Timur, Aditya S, menyampaikan penjelasan resmi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Karang Intan. Klarifikasi ini disampaikan sebagai bentuk keterbukaan dan komitmen menjaga transparansi program.
Kepala SPPG Mandikapau Timur, Aditya S, menyampaikan penjelasan resmi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan ke sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Karang Intan, termasuk SDN Awang Bangkal Timur.
Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, mengenai mekanisme penyaluran, standar anggaran, serta komposisi menu yang diterapkan dalam program tersebut.
Skema Anggaran Berdasarkan Kategori
Aditya S menjelaskan bahwa anggaran per porsi MBG dibedakan berdasarkan kategori penerima manfaat.
“Anggaran porsi terbagi sesuai kategori penerima manfaat, yakni porsi kecil Rp8.000 untuk 1.083 orang dan porsi besar Rp10.000 untuk 1.334 orang,” jelasnya.
Total penerima manfaat per hari berjumlah 2.417 orang. Selama periode Ramadhan, distribusi dilakukan untuk tiga hari sekaligus sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional, sehingga dalam satu kali penyaluran disiapkan sekitar 7.251 porsi.
“Perhitungan anggaran mengikuti jumlah tersebut sesuai ketentuan program,” tambahnya.
Distribusi Tiga Hari Selama Ramadhan
Terkait pembagian paket yang dilakukan untuk tiga hari, ia membenarkan skema tersebut.
“Benar, paket merupakan alokasi konsumsi untuk tiga hari sekaligus. Skema ini dilaksanakan berdasarkan ketentuan penyaluran selama periode Ramadhan dari Badan Gizi Nasional,” ujarnya.
Menurutnya, penyaluran setiap tiga hari sekali dilakukan agar distribusi tetap berjalan efektif dan seluruh penerima manfaat dapat terlayani secara optimal.
Standar Gizi dan Komposisi Menu
Dalam penyusunan menu, SPPG Mandikapau Timur mengacu pada prinsip gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Penilaian dilakukan berdasarkan gramasi bahan dan kandungan nutrisi.
Adapun rincian menu yang disampaikan antara lain:
- Senin: wedges potatoes, cream cheese, telur rebus, dan pisang ambon.
- Selasa: roti manis, sweet cream cheese, telur rebus, dan kurma.
- Rabu: fried rolade tahu sayur, telur rebus, dan pisang.
“Kombinasi menu tersebut dirancang agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi setiap hari,” jelasnya.
Penyesuaian Menu dan Komponen Susu
Menanggapi perbandingan dengan SPPG lain yang menyediakan susu kemasan, Aditya S menyampaikan bahwa perbedaan menu dimungkinkan karena penyesuaian ketersediaan bahan dan distribusi logistik.
“Komponen susu kemasan 125 ml sebelumnya telah direncanakan. Namun karena keterbatasan stok akibat tingginya kebutuhan di berbagai lokasi, distribusi belum tersedia,” terangnya.
Sebagai penyesuaian, kandungan gizi susu disebut digantikan dengan produk olahan dairy seperti cream cheese yang tetap mengandung unsur susu, protein, lemak, dan kalsium.
Ia juga menjelaskan bahwa tampilan porsi dapat terlihat lebih sedikit karena penggunaan kemasan mika berukuran lebih besar dari volume isi. Namun secara gramasi bahan dan perhitungan gizi, porsi tetap sesuai standar kebutuhan program.
Proses Produksi dan Pengawasan
Seluruh menu diproduksi langsung di dapur SPPG melalui tahapan seleksi bahan baku, proses pengolahan, hingga pengemasan higienis sebelum didistribusikan.
Pengawasan dilakukan melalui pengecekan bahan baku, kontrol proses produksi, serta evaluasi berkala. Setiap masukan dari wali murid disebut menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas layanan.
“Kami berkomitmen menjalankan program secara transparan dan terbuka terhadap evaluasi demi memastikan manfaatnya dirasakan optimal oleh para siswa,” pungkasnya. (bin/rasyad)
