Eks Transmigran Ungkap Kisah Bekambit: Dua Kali Gagal Panen hingga Akhirnya Kembali ke Bali

Kesulitan bertani, banjir hingga air yang tidak layak minum menjadi alasan warga transmigrasi meninggalkan kawasan Bekambit sejak awal 1990-an.

KOTABARU, borneoinfonews.com – Program transmigrasi yang pernah berjalan di kawasan Bekambit pada akhir 1980-an menyimpan cerita panjang bagi para pesertanya. Salah satu eks transmigran asal Bali mengungkap berbagai kesulitan yang dialami warga saat membuka lahan pertanian di wilayah tersebut.

Cerita itu disampaikan oleh Nyoman Siniawan, warga asal Bali yang mengikuti program transmigrasi di Bekambit sekitar tahun 1988.

Ia tinggal di kawasan tersebut selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Bali sekitar tahun 1990 hingga 1991.

Menurutnya, sejak awal para transmigran menghadapi tantangan berat terutama dalam mengolah lahan pertanian.

Pada masa awal kedatangan, beberapa tanaman sempat tumbuh dengan baik.

Tanaman seperti singkong, kacang, hingga cabai pernah menghasilkan cukup baik pada penanaman pertama.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama.

Saat mencoba menanam kembali untuk kedua kalinya, hasilnya justru tidak berhasil.

Selain kondisi tanah yang keras, warga juga menghadapi banjir yang datang dari aliran air wilayah yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat lahan sering tergenang dan sulit diolah.

Tidak hanya itu, pasang surut air laut juga terkadang masuk hingga ke daratan sehingga membuat kondisi lahan berubah antara kering dan tergenang.

Masalah lain yang dihadapi warga saat itu adalah ketersediaan air bersih.

Air yang tersedia di kawasan tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk minum.

“Pertama memang bagus. Singkong, kacang, bahkan cabai pernah bagus. Tapi waktu menanam kedua kali semuanya gagal. Tanahnya keras,” ujar Nyoman.

Ia juga menyebut air yang ada di kawasan tersebut harus direbus cukup lama sebelum bisa diminum.

“Kami ambil air dari hutan lalu direbus sampai sekitar 40 menit baru bisa diminum. Kalau tidak lama direbus, rasanya masih asam,” katanya.

Karena kegagalan panen dan sulitnya mendapatkan air bersih, sebagian transmigran akhirnya memilih meninggalkan kawasan Bekambit dan kembali ke daerah asal mereka pada awal 1990-an. (bin/lb)