APBN Triwulan I 2026 Tumbuh Kuat, Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun

Ilustrasi pengelolaan APBN dan pertumbuhan ekonomi Indonesia

Pemerintah optimistis ekonomi nasional tetap tahan tekanan global ditopang belanja negara dan stabilitas fiskal

JAKARTA, borneoinfonews.com – Pemerintah menyebut kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Triwulan I 2026 tetap kuat dan sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target APBN. Realisasi tersebut tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target APBN dan tumbuh 14,3 persen (yoy). Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak terealisasi Rp394,8 triliun dengan pertumbuhan sebesar 20,7 persen.

Pemerintah menilai pertumbuhan penerimaan negara didorong membaiknya aktivitas usaha, harga komoditas yang masih mendukung, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta penguatan transformasi digital administrasi perpajakan.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun atau 20,2 persen dari target APBN. Meski mengalami kontraksi 12,6 persen, sektor tersebut dinilai tetap berkontribusi penting terhadap pendapatan negara.

Di sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari target APBN, meningkat signifikan sebesar 31,4 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Belanja Pemerintah Pusat terealisasi Rp610,3 triliun, sedangkan Transfer ke Daerah mencapai Rp204,8 triliun. Pemerintah menyebut percepatan belanja tersebut menjadi instrumen penting menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Program prioritas pemerintah juga terus berjalan. Hingga akhir Maret 2026, realisasi program MBG mencapai Rp55,3 triliun dengan jumlah penerima mencapai 61,8 juta orang melalui 26.066 SPPG.

Secara keseluruhan, APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun pemerintah memastikan posisi tersebut masih dalam batas aman dan sesuai desain APBN 2026.

Di tengah tekanan global akibat ketegangan geopolitik dan gejolak harga energi, pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen (yoy), ditopang permintaan domestik dan ekspansi sektor produktif.

Inflasi juga disebut tetap terkendali pada level 3,48 persen dan kembali menurun menjadi 2,42 persen pada April 2026.

Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pasar keuangan, dan kepercayaan investor.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis APBN 2026 tetap mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (bin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *