Dua Bulan Lawan Api, Lahir Formula Baru Polda Kalsel

BANJARBARU, borneoinfonews.com – Dua bulan berjibaku melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Polda Kalimantan Selatan terus mencari cara menghadapi api, terutama yang bertahan di bawah permukaan lahan gambut.

Dari perjuangan itu, lahir inovasi penggunaan cairan surfaktan sebagai salah satu strategi baru pemadaman karhutla.

Penerapan metode tersebut berlangsung di kawasan Tambak Buluh, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Senin (7/9/2026).

Kapolda Kalimantan Selatan, Inspektur Jenderal Polisi Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., turun langsung melihat penerapan metode tersebut di lapangan.

“Jadi kegiatan hari ini kita melakukan pemadaman dengan menggunakan cairan surfaktan,” ujar Rosyanto saat ditemui di lokasi.

Berawal dari Dua Bulan Berjibaku

Rosyanto menjelaskan, penggunaan surfaktan tidak muncul secara tiba-tiba.

Selama kurang lebih dua bulan, personel menghadapi karhutla yang terus muncul di sejumlah lokasi. Tantangan semakin berat ketika api terlihat padam, tetapi bara masih bertahan di bawah permukaan gambut.

Kondisi itu membuat api kembali muncul setelah proses pemadaman.

Karena itu, Polda Kalsel mulai mencari metode yang dapat menjangkau bagian bawah lahan sekaligus menghemat penggunaan air.

“Karena kita sudah melakukan pemadaman kurang lebih dua bulan ini, khususnya di lahan gambut, api itu setelah kita padamkan muncul lagi,” jelasnya.

Dari proses tersebut, jajaran Polda Kalsel mengembangkan sejumlah pendekatan, termasuk kolam bioflok, pipa atau sumbu untuk menjangkau titik api bawah tanah, serta penggunaan cairan surfaktan.

Tiga Pekan Diuji, Kini Masuk Lapangan

Sebelum diterapkan, cairan surfaktan telah melalui pengujian selama lebih dari tiga minggu.

Kini, metode tersebut tidak lagi sebatas percobaan. Polda Kalsel mulai menerapkannya langsung pada lokasi karhutla.

“Sudah bukan lagi dengan melakukan uji coba, tapi sudah implementasi kita, sudah melakukan aplikasi-aplikasi di sini,” kata Rosyanto.

Sejumlah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turut hadir untuk mengamati proses pemadaman dan mempelajari inovasi yang diterapkan.

Api Diburu dari Bawah Gambut

Polda Kalsel terlebih dahulu memetakan kondisi lahan menggunakan drone.

Pemetaan bertujuan menentukan titik yang membutuhkan penanganan. Cara ini membuat petugas dapat melakukan penyiraman secara selektif sehingga penggunaan air dan surfaktan lebih efisien.

Setelah titik api bawah tanah teridentifikasi, petugas memasukkan pipa atau sumbu ke dalam lahan.

Cairan surfaktan kemudian dialirkan melalui sistem tersebut menuju bagian gambut yang masih menyimpan bara.

Rosyanto mengatakan, area yang mendapat perlakuan tersebut dapat menjadi dingin dalam waktu kurang dari satu menit.

Ia juga menunjukkan lokasi yang sebelumnya mendapat perlakuan serupa lebih dari sepekan lalu. Menurutnya, api belum kembali muncul di titik tersebut.

Efisiensi Air Disebut Capai 50 Persen

Ketersediaan air menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla, terutama ketika musim kemarau.

Karena itu, Polda Kalsel juga mencari metode yang dapat mengurangi kebutuhan air saat pemadaman.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang disampaikan Kapolda Kalsel, penggunaan metode tersebut dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 50 persen.

Selain menghemat air, metode tersebut diharapkan mempercepat proses pemadaman dan mengurangi beban personel yang harus berulang kali menangani titik api yang sama.

Produksi Masih Jadi Kendala

Pengembangan surfaktan masih menghadapi kendala pada sisi produksi.

Rosyanto mengatakan bahan baku didatangkan dari Pulau Jawa. Sementara itu, Polda Kalsel belum memiliki peralatan untuk memproduksi cairan tersebut dalam jumlah besar.

Akibatnya, produksi masih dilakukan secara manual.

Dalam tiga hari, jajaran Polda Kalsel mampu menghasilkan sekitar 3.000 liter cairan surfaktan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 liter dikirim ke Kalimantan Tengah untuk diuji di wilayah tersebut.

Jika penerapannya efektif, pengembangan metode serupa akan dilakukan di Kalimantan Tengah.

Seluruh Kapolres Disiapkan Terapkan di Daerah

Penerapan inovasi tersebut tidak hanya menjadi perhatian Polda Kalsel.

Seluruh Kapolres jajaran Polda Kalsel hadir untuk melihat langsung proses pemadaman menggunakan cairan surfaktan.

Mereka mempelajari mekanisme penggunaan surfaktan, pemetaan titik api hingga metode penyuntikan cairan ke dalam lahan gambut.

Kehadiran seluruh Kapolres menjadi bagian dari upaya agar metode tersebut dapat dipahami dan nantinya diaplikasikan di wilayah masing-masing.

Dengan begitu, inovasi pemadaman tidak berhenti di satu lokasi. Setiap wilayah dapat menyesuaikan penerapannya dengan kondisi karhutla yang dihadapi.

Libatkan Lintas Instansi

Kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai unsur di luar kepolisian.

Sejumlah instansi pemerintahan, pejabat TNI dan jajaran terkait turut hadir menyaksikan langsung proses penerapan metode pemadaman tersebut.

Kapolda Kalsel hadir didampingi Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Noviar, S.I.K., bersama seluruh jajaran Polda Kalsel.

Keterlibatan lintas instansi memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Pemadaman, pemantauan, pencegahan hingga pengembangan metode harus berjalan secara terpadu.

Inovasi untuk Ringankan Beban Personel

Rosyanto mengatakan inovasi tersebut juga lahir dari kondisi personel yang telah berbulan-bulan berjibaku di lapangan.

Selain menghadapi panas dan asap, petugas harus kembali ke lokasi yang sama ketika bara muncul setelah api dinyatakan padam.

Karena itu, metode baru diharapkan dapat mengurangi kelelahan sekaligus mempercepat penanganan.

“Ini untuk meringankan beban mereka, karena mereka sudah dua bulan melakukan pemadaman,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi tersebut juga membantu menjaga semangat personel dalam menghadapi karhutla yang berulang.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Di tengah pengembangan berbagai metode pemadaman, Rosyanto menegaskan pencegahan tetap menjadi langkah utama.

Ia mengajak masyarakat menjaga lahan masing-masing agar tidak terbakar dan menimbulkan dampak bagi lingkungan maupun masyarakat lainnya.

“Kita berharap masyarakat juga peduli terhadap lingkungan, menjaga lahannya supaya tidak terbakar dan tidak merugikan masyarakat yang lain,” katanya.

Ia juga mengingatkan TNI, Polri, BPBD, UPTD, pemerintah provinsi serta relawan agar tetap menjaga kesehatan dan semangat dalam menjalankan tugas.

Penggunaan surfaktan menjadi salah satu jawaban Polda Kalsel terhadap tantangan api gambut yang sulit ditaklukkan.

Namun, inovasi pemadaman tetap menjadi langkah setelah api muncul. Mencegah kebakaran sejak awal tetap menjadi cara paling efektif untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

(bin/rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *