Relawan Minta Water Bombing di Kawasan Perbukitan Tahura, Begini Respons Pusdalops BPBD Banjar

Relawan memadamkan karhutla di kawasan perbukitan Tahura Sultan Adam saat bantuan udara menjadi sorotan

Relawan mempertanyakan ketepatan informasi operasi udara dan respons permohonan bantuan untuk kebakaran di kawasan perbukitan Tahura Sultan Adam. BPBD menyebut masa sewa helikopter telah berakhir dan mengarahkan koordinasi ke tingkat provinsi.

BANJAR, borneoinfonews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam akhirnya berhasil dipadamkan pada Selasa malam (13/10/2026), sekitar pukul 21.00 WITA.

Namun, berakhirnya kebakaran tidak serta-merta mengakhiri persoalan. Relawan yang terlibat dalam pemadaman mempertanyakan respons permohonan bantuan helikopter water bombing, ketepatan informasi penanganan di lapangan, serta koordinasi antarinstansi selama kebakaran berlangsung.

Permohonan bantuan udara disampaikan karena titik api berada di kawasan perbukitan dengan medan terjal dan akses darat yang sulit. Kondisi tersebut menyulitkan relawan menjangkau sejumlah titik kebakaran, terlebih ketika sumber air terbatas.

Dalam percakapan di grup koordinasi darurat, relawan menyampaikan informasi lokasi, foto, dan perkiraan titik api untuk mendukung penanganan.

Informasi Operasi Udara Dipertanyakan

Dalam komunikasi grup, Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar sempat menyampaikan informasi bahwa helikopter water bombing telah bergerak melakukan pemadaman di kawasan Bukit Putra Bulu dan Bukit Sianjal.

Namun, relawan di lapangan membantah bahwa penyiraman udara telah menjangkau seluruh lokasi yang disebutkan. Berdasarkan keterangan relawan, penyiraman dilakukan di kawasan Bukit Putra Bulu, sedangkan Bukit Sianjal disebut belum tersentuh operasi udara sejak seminggu lebih telah dilaporkan.

Perbedaan informasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai titik sasaran penyiraman dan kesesuaian laporan dengan kondisi aktual di lapangan.

Ketika relawan kembali meminta kepastian melalui komunikasi pribadi, pihak Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar mempertanyakan jalur permohonan bantuan yang disampaikan.

“Pian meminta kemana? Lewat mana?” demikian bunyi pesan yang diterima relawan.

Relawan menilai pertanyaan tersebut tidak sejalan dengan informasi yang sebelumnya telah mereka kirimkan melalui grup koordinasi darurat.

Meski demikian, penjelasan BPBD mengenai alur pelaporan dan koordinasi secara menyeluruh masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana permohonan bantuan diproses.

Relawan Bertahan hingga Malam

Relawan menyebut penyiraman udara pada Minggu (11/10/2026) dan Senin (12/10/2026) di Bukit Putra Bulu belum berhasil memadamkan seluruh titik api.

Menurut mereka, api kembali membesar di sejumlah bagian kawasan yang memiliki vegetasi kering. Relawan darat pun melanjutkan pemadaman hingga malam hari.

Medan terjal, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menuju titik api menjadi tantangan selama penanganan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pembagian peran antara operasi udara dan pemadaman darat, terutama ketika kebakaran meluas di kawasan konservasi yang sulit dijangkau.

BPBD Sebut Masa Sewa Helikopter Berakhir

Saat relawan mendorong evaluasi terhadap penanganan karhutla di kawasan hulu, pihak Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar menyampaikan adanya keterbatasan armada akibat berakhirnya masa sewa helikopter.

Dalam pesan yang diterima relawan, pihak BPBD menulis:

“Apanya yang perlu dievaluasi. Awalnya empat, habis dah masa kontrak dua heli. Harap dimaklumi ae dulu.”

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan dukungan udara ketika kebakaran masih terjadi di kawasan perbukitan.

Relawan juga mempertanyakan kepastian bantuan lanjutan untuk menjangkau titik api yang belum tertangani.

Dalam komunikasi berikutnya, pihak BPBD mengarahkan relawan untuk menghubungi BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.

“Silakan pian konfirmasi ke BPBD Provinsi Kalsel, mereka yang koordinasi dengan Satgas Udara BNPB Pusat,” demikian isi pesan tersebut.

Arahan itu menunjukkan bahwa koordinasi bantuan udara melibatkan tingkatan pemerintahan berbeda. Namun, pembagian tanggung jawab, mekanisme permohonan, serta langkah yang telah ditempuh untuk memenuhi kebutuhan relawan masih perlu dijelaskan oleh instansi terkait.

Skema Sewa Helikopter Perlu Dijelaskan

Berakhirnya masa sewa helikopter ketika kebakaran masih berlangsung memunculkan pertanyaan dari relawan dan masyarakat mengenai kesinambungan dukungan udara untuk penanganan karhutla.

Publik membutuhkan penjelasan mengenai masa berlaku kontrak, jumlah armada yang tersedia, mekanisme perpanjangan sewa, serta rencana penggantian ketika dukungan udara tidak lagi tersedia.

Pertanyaan lain menyangkut pilihan kebijakan jangka panjang. Apakah pemerintah akan terus mengandalkan penyewaan armada sesuai kebutuhan, atau mempertimbangkan skema lain untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan?

Pengadaan helikopter sendiri memerlukan kajian tersendiri, termasuk biaya pembelian, perawatan, awak, dan kesiapan operasional. Karena itu, evaluasi perlu membandingkan kebutuhan, biaya, serta efektivitas setiap pilihan sebelum menentukan kebijakan.

Perlindungan Geopark Meratus Jadi Perhatian

Kebakaran di kawasan perbukitan Tahura Sultan Adam turut menyoroti pentingnya perlindungan hutan konservasi yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Tahura Sultan Adam merupakan bagian dari kawasan Geopark Meratus yang memiliki nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan bentang alam yang perlu dijaga.

Kerusakan tutupan vegetasi dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi. Dampaknya terhadap ketersediaan air, banjir, dan longsor bergantung pada tingkat kerusakan, kondisi tanah, topografi, serta curah hujan.

Karena itu, evaluasi penanganan karhutla tidak cukup hanya menghitung luas lahan yang terbakar atau jumlah operasi pemadaman. Pemerintah juga perlu memetakan tingkat kerusakan, memantau kondisi sumber air, serta menyiapkan langkah pemulihan kawasan terdampak.

Bagi relawan yang berjibaku memadamkan api di medan terjal, keberhasilan memadamkan kebakaran seharusnya diikuti perhatian terhadap dampak ekologisnya. Kerusakan hutan di kawasan hulu perlu ditangani secara serius agar risiko terhadap fungsi daerah tangkapan air dan lingkungan di sekitarnya dapat dipetakan serta diantisipasi.

BPBD Kabupaten Banjar Perlu Memberikan Penjelasan

Borneo Info News membuka ruang konfirmasi kepada BPBD Kabupaten Banjar dan instansi terkait untuk menjelaskan alur permohonan bantuan, sasaran operasi udara, status kontrak helikopter, serta koordinasi dengan pemerintah provinsi dan BNPB.

Penjelasan tersebut diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai kendala penanganan karhutla di Kawasan Tahura Sultan Adam.

Kebakaran memang telah padam. Namun, evaluasi terhadap kesiapan bantuan udara, ketepatan informasi, dan koordinasi penanganan tetap diperlukan agar kendala serupa dapat diantisipasi ketika kebakaran kembali terjadi.

(bin/lhm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *