BANJARMASIN, borneoinfonews.com – Aksi damai bertajuk “September Hitam, Merawat Ingatan” yang digelar di Siring Menara Pandang, tepian Sungai Martapura, Banjarmasin, Sabtu malam (27/9/2025), ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap.
Sekitar 120 mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Aliansi BEM Se-Kalimantan Selatan bersama komunitas seni menyampaikan dua poin utama tuntutan kepada pemerintah dan aparat.
Pertama, menolak lupa tragedi kelam yang terjadi di bulan September agar tidak pernah terulang kembali.Kedua, menuntut sekaligus mengecam pemerintah serta aparat agar mengusut tuntas pelanggaran HAM dan berbagai bentuk ketidakadilan di Indonesia.

Ketua Panitia, Yazid Arifani, menegaskan bahwa pernyataan sikap tersebut adalah simbol perlawanan terhadap amnesia kolektif bangsa.
“September adalah bulan luka bangsa. Hari ini kami menolak lupa, agar tragedi kelam itu tidak terkubur begitu saja,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa UNISKA MAB, Muhammad Anzari, menekankan bahwa tuntutan itu adalah panggilan moral agar pemerintah menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.

“Kami merawat ingatan ini agar bangsa sadar. Pelanggaran HAM belum selesai, justru terus bertambah. Pemerintah harus menuntaskan kasus HAM demi keadilan, demi memanusiakan manusia,” tegasnya.
Pernyataan sikap tersebut dibacakan setelah rangkaian acara berupa pembacaan puisi, aksi teatrikal, tabur bunga, serta doa bersama. Suasana khidmat di penghujung acara menjadi penegasan bahwa aliansi mahasiswa dan masyarakat Kalsel menolak lupa serta terus menuntut keadilan.(bin/Rasyad)
