Rektor ULM Ungkap Inovasi Surfaktan untuk Padamkan Karhutla

Rektor ULM Dr. dr. H. Iwan Aflanie saat memaparkan kontribusi riset kampus dalam penanganan karhutla dan mitigasi bencana.

Rektor menyebut pakar ULM mengembangkan penggunaan surfaktan dan metode pembasahan dari dalam untuk membantu penanganan kebakaran gambut. Penerapan dan efektivitas teknologinya perlu dijelaskan lebih lanjut oleh peneliti.

BANJARMASIN, borneoinfonews.com – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menyatakan telah berkontribusi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui hasil penelitian serta pengembangan teknologi. Salah satu inovasi yang disampaikan Rektor ULM, Dr. dr. H. Iwan Aflanie, M.Kes., Sp.F., S.H., ialah penggunaan surfaktan untuk membantu pemadaman api di lahan gambut.

Dalam audiensi bersama awak media, Iwan mengatakan hasil penelitian dan teknologi dari pakar ULM telah disumbangkan kepada pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan kepolisian. Ia juga menyebut penanganan karhutla perlu disertai langkah mitigasi menghadapi risiko bencana ekologis.

“Saat ini kita menghadapi bencana ekologis akibat El Nino (kemarau panjang, suhu naik, lahan mudah terbakar). ULM sudah banyak menyumbangkan hasil penelitian dan teknologi kepada Pemda, BPBD, dan Kepolisian,” kata Iwan.

Menurut penjelasan Rektor, salah satu tantangan pemadaman di lahan gambut adalah penggunaan air yang dinilai kurang efektif apabila hanya disiramkan ke permukaan. Ia menyebut pakar ULM mengembangkan penggunaan surfaktan, bahan yang dapat membantu membentuk busa ketika dicampurkan dengan air.

“Contohnya, pakar ULM menemukan inovasi penggunaan Surfactant (Surfaktan). Mengguyur lahan gambut dengan air saja tidak efektif dan boros air (1 hektar butuh 5-6 ton air). Dengan surfaktan yang diaduk hingga berbusa banyak, busanya jauh lebih efektif memadamkan api di lahan gambut,” ujarnya.

Iwan juga memaparkan metode pembasahan dari dalam dengan menggunakan sistem filtrasi atau pipa untuk menyalurkan air ke bagian bawah tanah gambut. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu membasahi lapisan gambut yang berpotensi menyimpan bara dan memicu kebakaran kembali.

Selain teknologi pemadaman, ULM mendorong pembentukan desa tahan bencana yang memiliki kesiapan menghadapi karhutla maupun banjir. Menurut Iwan, upaya mitigasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, dan media.

“Kita juga mendorong pembentukan Desa Tahan Bencana (tahan banjir dan karhutla) serta memberikan advokasi/edukasi yang konstruktif bersama akademisi, pemerintah, dan media,” katanya.

Rektor membuka peluang bagi awak media untuk melakukan wawancara lebih lanjut dengan pakar ULM yang berkaitan dengan penelitian dan mitigasi bencana. Ia menyebut sejumlah akademisi dapat dihubungkan untuk menjelaskan inovasi serta kontribusi kampus secara lebih terperinci.

Pemaparan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya ULM mendorong pemanfaatan hasil riset untuk kebutuhan masyarakat. Namun, rincian teknis mengenai penggunaan surfaktan, kebutuhan air, tingkat efektivitas, serta penerapannya di lapangan masih perlu dikonfirmasi langsung kepada peneliti terkait.

Di tengah ancaman karhutla dan potensi banjir saat musim hujan, penguatan mitigasi juga perlu mencakup kesiapan masyarakat, koordinasi antarinstansi, dan langkah pencegahan yang sesuai dengan kondisi wilayah. Hasil penelitian perguruan tinggi dapat menjadi salah satu masukan dalam upaya tersebut apabila didukung pengujian dan penerapan yang memadai.

(borneoinfonews/Rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *