KOWAS Bawa Pengalaman Media ke Siswa Pengaron

Praktisi media KOWAS memberikan materi kepada siswa SMAN 1 Pengaron

Praktisi media mengajak siswa memahami bahwa membuat konten membutuhkan perencanaan, arah, konsistensi dan etika bermedia sosial.

PENGARON, borneoinfonews.com – Sebuah konten mungkin hanya berdurasi beberapa detik. Namun, di baliknya ada proses yang tidak selalu terlihat: mencari ide, menentukan tujuan, mengambil gambar, menyusun pesan hingga memikirkan bagaimana konten itu diterima orang lain.

Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang dibagikan para praktisi media dalam pelatihan di SMAN 1 Pengaron.

Perwakilan Komunitas Pewarta dan Admin Media Sosial (KOWAS), Roly Supriadi, mengajak siswa melihat media sosial tidak hanya sebagai tempat untuk mengunggah sesuatu yang mereka buat. Menurutnya, sebuah konten sebaiknya memiliki arah dan tujuan.

Ia menilai siswa sebenarnya sudah memiliki potensi. Kemampuan berbicara, mengambil gambar, menentukan view dan angle sudah terlihat dalam diri mereka.

Persoalannya, potensi tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai aktivitas mengisi media sosial.

“Pada dasarnya mereka bagus, sangat bagus. Mereka mempunyai olah vokal yang bagus, konten-konten yang bagus, cara mengambil view dan angle yang bagus,” ujar Roly.

Menurutnya, sebagian siswa sebelumnya mungkin membuat video hanya untuk koleksi pribadi, kemudian langsung mengunggahnya tanpa proses yang matang.

Dari sinilah pentingnya perencanaan.

Roly menekankan bahwa sebuah pekerjaan, termasuk membuat konten, membutuhkan tujuan yang jelas. Kreativitas akan lebih berarti ketika tahu apa yang ingin disampaikan dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan.

Di sisi lain, perkembangan media sosial juga menghadirkan tantangan baru. Algoritma berubah, tren berganti, dan pola konsumsi informasi terus bergerak.

Namun, satu hal tidak boleh ikut berubah: etika.

Roly mengingatkan siswa agar memahami batasan dalam bermedia sosial sehingga konten yang dibuat tidak berujung pada cyberbullying ataupun persoalan hukum.

Sementara itu, dukungan terhadap kegiatan tersebut datang dari PT Kadya Caraka Mulia (KCM).

Perwakilan PT KCM, Budi Samudera, mendorong siswa memanfaatkan kesempatan belajar bersama para praktisi. Menurutnya, kemampuan membuat konten, menyusun informasi, membuat judul dan caption hingga merespons komentar merupakan keterampilan yang dapat berguna di masa depan.

Bahkan, keterampilan digital dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

“Adik-adik bisa belajar bagaimana membuat konten yang menarik sekaligus memiliki nilai ekonomi,” katanya.

Pada akhirnya, pelatihan ini tidak hanya berbicara tentang menjadi kreator. Ada pesan yang lebih sederhana: sebelum menekan tombol unggah, seseorang perlu tahu apa yang ingin disampaikan dan mengapa ia menyampaikannya.

Karena konten yang baik bukan hanya tentang bagaimana sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang manfaat yang ditinggalkannya.

(bin/rasyad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *