Audiensi dengan WRC Kalsel, Mulyadi tegaskan komitmen bersih-bersih lapas, bantah kamar istimewa hingga ungkap jalur penyelundupan dari pengunjung.
Upaya pemberantasan pelanggaran di dalam lembaga pemasyarakatan kembali menjadi sorotan. Menanggapi temuan yang disampaikan Wath Relation of Corruption (WRC) Korwil Kalimantan Selatan, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Dirjenpas) Kalsel, Mulyadi, menegaskan bahwa setiap dugaan harus dibuktikan secara resmi, sementara razia di lapas dan rutan rutin digelar hingga empat kali dalam sebulan.
BANJARMASIN, borneoinfonews.com – Menanggapi masukan dan temuan yang disampaikan Wath Relation of Corruption (WRC) Korwil Kalimantan Selatan, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Dirjenpas) Kalsel, Mulyadi, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut.
Audiensi yang berlangsung pada Kamis, 5 Februari 2026, siang itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang penyampaian masukan dari WRC Kalimantan Selatan, termasuk terkait sejumlah temuan di lapas dan rutan. Mulyadi menegaskan, pihaknya terbuka terhadap setiap laporan yang disampaikan, sepanjang disertai data dan bukti yang jelas.
“Pertama saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Habib dan kawan-kawan. Memang kami tidak ada janji sebelumnya. Mereka menyampaikan masukan-masukan dan katanya ada temuan,” ujar Mulyadi.
Ia mempersilakan seluruh temuan disampaikan secara resmi agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau memang ada temuan, sampaikan ke saya segera biar kami evaluasi. Tapi kalau tidak dibuktikan, kalau hanya ucapan tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Razia Rutin dan Tes Urine
Mulyadi memastikan, pihaknya terus melakukan pembenahan di seluruh lapas dan rutan di Kalimantan Selatan, sesuai instruksi pimpinan pusat.
“Perintah Pak Menteri, Pak Dirjen, bahkan pimpinan tinggi di pusat tidak pernah kami abaikan. Kami melaksanakan razia satu bulan empat kali, baik rutin, insidentil maupun khusus,” jelasnya.
Tak hanya itu, tes urine juga dilakukan kepada warga binaan maupun petugas.
“Kalau dalam razia atau tes urine ada yang positif, atau ditemukan handphone, apalagi narkoba, pasti langsung kami laporkan ke kepolisian. Tidak pernah kami simpan,” katanya.
Menurutnya, setiap temuan menjadi bahan evaluasi internal, termasuk menelusuri jalur masuk barang terlarang.
“Tidak menutup kemungkinan bisa saja dari oknum petugas atau dari pengunjung. Beberapa kali kami temukan di pintu utama dari pengunjung. Bahkan narkoba juga pernah dari pengunjung, terakhir di Kotabaru,” ungkapnya.
Bantah Ada “Kamar Istimewa”
Terkait dugaan jual beli kamar, Mulyadi mengaku terkejut mendengar informasi tersebut.
“Saya kaget juga kalau katanya kamar disewakan. Karena ketika kami turun sidak, tidak ada kamar istimewa. Tempatnya juga memang terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penempatan kamar warga binaan sudah diatur melalui Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) yang terhubung langsung ke pusat.
“Penempatan kamar itu sudah masuk database dan terkoneksi ke pusat. Kalau satu kamar diisi tidak sesuai, pasti dipertanyakan,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui kemungkinan penyelundupan handphone masih bisa terjadi.
“Kalau handphone keluar masuk, kemungkinan kecil tapi pasti ada. Karena oknum, baik dari petugas maupun pengunjung yang mencoba memasukkan,” katanya.
Fasilitas Wartel Khusus Disiapkan
Sebagai solusi komunikasi warga binaan, pihak pemasyarakatan kini menyiapkan fasilitas Wartel Suspas (Warung Telekomunikasi Khusus Pemasyarakatan).
“Warga binaan bisa video call dengan keluarga melalui fasilitas itu. Pulsanya juga murah dan komunikasinya dimonitor,” jelasnya.
Menurutnya, fasilitas tersebut dihadirkan agar tidak ada lagi alasan penggunaan handphone ilegal di dalam lapas.
“Kalau masih ada pelanggaran, tentu akan kami evaluasi, bahkan bisa sampai pemecatan bagi petugas yang terbukti,” tegasnya.
Komitmen Bersih-Bersih Lapas
Ke depan, Kanwil Dirjenpas Kalsel menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan.
“Kami tidak pernah diam, tidak pernah berhenti, tidak pernah capek melakukan pembersihan di dalam lapas maupun rutan,” ucapnya.
Ia juga menyebut pihaknya menjalankan program prioritas dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, termasuk pemberantasan narkoba dan penipuan yang kerap dikendalikan dari dalam lapas.
“Harapan kami tentu pemasyarakatan di Kalimantan Selatan baik-baik saja, tidak ada masalah yang mencoreng lembaga,” pungkasnya. (bin/rasyad)
